(___The GoLdeN^^FloWer__**BiLLy Tama**) BELAJAR BERSAMA: Sejarah Musik Keroncong
Belajar Bersama
bigoes tama:

Jumat, 06 Agustus 2010

Sejarah Musik Keroncong


CILINCING - Sejarah keroncong di Indonesia tidak terlepas dari kehadiran Kroncong Toegoe di Kampung Tugu, Plumpang, Semper, Jakarta Utara.Generasi muda kelompok ini dimotori oleh Andre Juan Michiels. Kehadiran musik ini berawal dari jatuhnya Malaka dari Portugis ke tangan Belanda pada tahun 1648. Orang-orang Portugis pada umumnya adalah tentara keturunan berkulit hitam yang berasal dari Bengali, Malabar, dan Goa. Mereka adalah tawanan Belanda dan dibawa ke Batavia (sekarang Jakarta).




Sekitar tahun 1661, mereka dibebaskan, lalu bermukim di rawa-rawa sekitar Cilincing yang kemudia disebut Kampoeng Toegoe. Di kampung ini, kaum yang baru saja dibebaskan itu membangun komunitas dengan pekerjaan pokok bertani, berburu, dan mencari ikan. Di kala senggang, mereka mengisi waktunya dengan bermain musik. Dengan peralatan sederhana berupa alat musik petik mirip gitar kecil berdawai lima atau yang biasa disebut rajao, mereka bernyanyi dengan gembira. Alat ini kemudian dimainkan bersama biola, gitar, rebana, dan seruling. Musik ini banyak penggemar dan disukai orang dan terus berkembang dari namanya moresco hingga berubah nama menjadi keroncong pada awal abad ke-19. Ya, karena musiknya yang terdengar seperti berbunyi creng...crong...inilah musik ini dinamai keroncong.

Keroncong Progresif

Mengapa musik keroncong jarang dilirik anak muda sekarang? Apakah karena musiknya membuat kantuk bagi yang mendengarkan? Sebenarnya, tidak demikian. Tergantung kepada bagaimana kita menyikapinya. Yang jelas, musik keroncong jarang dilirik karena musik ini tidak dikembangkan, utamanya membuat keroncong berkembang secara progresif seperti Cong Rock-nya anak-anak Untag, Semarang, yang sampai sekarang masik eksis dalam menyuguhkan lagu-lagu Indonesia maupun barat dengan ritme cepat dan rancak. Mereka mampu membawakan lagu-lagu Deep Purple dan Nat King Cole tanpa masalah meskipun dalam irama keroncong nan rancak. Penyanyinya juga tidak perlu berdiri kaku seperti patung. Komunikasi dengan penonton pun tak harus formal, namun tetap santun, ramah, dan akrab. Memang, jiwa keroncong tidak meledak-ledak seperti musik rok. Intro dan coda bisa dibuat progresif, tetapi pokok komposisi tetap irama keroncong asli sehingga tidak keluar dari pakem. Ya, karena jiwa keroncong memang halus dan sabar. Meskipun demikian, keroncong juga membawa semangat cinta tanah air, optimisme, dan gairah hidup.

Gebyar Keroncong

Sejauh ini, yang masih eksis mengibarkan bendera keroncong adalah TVRI pada setiap Senin, pukul 21.30 WIB selepas Dunia Dalam Berita. Tokoh dan penggemar keroncong bisa dikatakan tumplek blek menikmati acara tersebut. Ajang lainnya adalah mailing list. Bagi penggemar keroncong di seluruh Indonesia yang ingin bergabung dengan komunitas penikmat keroncong dapat mendaftarkan diri dengan mengirimkan e-mail kosong ke keroncong-subscribe@yahoo.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . Perkembangan ini sangat menggembirakan karena pehobi dan penikmat keroncong ini membentuk komunitas yang terdiri atas anak-anak muda dari berbagai profesi.

Di Salatiga sendiri, sebagai upaya mengembangkan kecintaan kepada musik keroncong di kalangan generasi muda, pada 25 November 2007 lalu diselenggarakan Lomba Nyanyi Keroncong Pelajar se-Kota Salatiga. Sebagai juara pertama sampai keempat untuk kategori putri, berturut-turut adalah Glora Jayanti (SMPN 2 Salatiga), Anisa Yuma Pradita (SDN Sidorejo Lor 2, Salatiga), Rebeca Andari (SMPN 2 Salatiga), dan Grace Anggelina (SMAN 3 Salatiga). Sedangkan juara pertama hingga keampta untuk kategori putra, berturut-turut adalah M. Sukandi (SMK PGRI Salatiga), Ign. Paundra (SMP Stella Salatiga), Kristianto (SMK Pelita Salatiga), dan Andika (SMAN 3 Salatiga).

Yang belum turut mengibarkan dan nguri-uri budaya asli Indonesia adalah stasiun televisi swasta. Dari sekian banyaknya stasiin televisi swasta, belum ada satu pun yang memiliki program musik keroncong. Padahal, berbagai stasiun itu sudah menyiarkan musik dangdut dan pop lengkap dengan berbagai model lombanya. Jadi, jangan salahkan Malaysia jika mereka mengaku memiliki musik keroncong. Semua adalah salah kita sendiri yang tidak mampu mengembangkan dan menjaga aset budaya milik bangsa. Mungkin semua itu karena seni budaya telah tertutup oleh hingar bingar isu politik, hukum, dan ekonomi yang sedang melanda bangsa ini. Padahal, banyak sekali yang bisa kita perbuat melalui musik sehingga orang beranggapan musik sebagai pendidikan humanis, berpikir logis, cerdas, kreatif dan mampu mengambil keputusan, serta mempunyai empati...creng..crong.... crong ....crong....

source krontjongtoegoe.com



SEMOGA BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA
SALAM: BILLY GUSTAMA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Sahabat Sangat Berarti Bagi Blog ini
Mohon cantumkan url blog/twitter/Open ID/facebook sahabat
Please...Tinggalkan Komentar Sahabat dan
Beri Tanda di salah satu pilihan pendapat

Terima Kasih Atas Kunjungannya

Jika Sahabat MErasa SUka dGn BloG ini

AddThis

Bookmark and Share

ASR

Search Engine

Postingan Terpopuler

BERBAGI UNTUK SAHABAT

Jika sahabat ingin Punya Web...klik disini Jika sahabat ingin Punya Blog... klik disini
Loading...